Siaran Pers: Konsultasi Publik II Region Sumatera Bagian Utara “Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatra 2019 – 2029”

Padang, 18 September 2019. Harimau sumatra adalah satu-satunya anak jenis harimau endemik Indonesia yang tersisa setelah harimau jawa dan harimau bali dinyatakan punah beberapa dekade lalu. Harimau sumatra kini tersebar di 23 kantong habitat di Pulau Sumatera, dan di habitat-habitat inilah harimau harus mengalami banyak ancaman seperti perburuan, pembukaan lahan, pemukiman, serta berbagai upaya pembagunan lainnya.

Upaya-upaya konservasi habitat dan populasi harimau sumatra terus dilakukan meskipun ancaman terus terjadi. Upaya kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintahan daerah, Lembaga Swadaya Masayarakat (LSM), perguruan tinggi, swasta, dan masyarakat dalam sepuluh tahun terakhir dinilai telah mengalami banyak kemajuan sejak dirumuskannya Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatra (SRAK HARIMAU) 2007 – 2017.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Exploitasia menyampaikan beberapa upaya yang telah dilakukan untuk konsevasi harimau sumatra beberapa tahun terakhir, “Pada tahun 2016 KLHK bersama Mitra dan pemerhati harimau sumatera telah melakukan Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) harimau sumatera kemudian dilanjutkan dengan evaluasi implementasi dokumen STRAKOHAS 2007-2017. Capaian dan kendala dalam evaluasi pelaksanaan STRAKOHAS 2007-2017 menjadi masukan untuk menentukan sasaran dan kegiatan prioritas selanjutnya.”

Dalam sambutannya Indra juga menyampaikan pentingnya pelaksanaan konsultasi publik ini agar informasi-informasi baru dapat terhimpun dan dokumen STRAKOHAS dapat selaras dengan strategi pemerintah lainnya. “Pelaksanaan pertemuan ini sangat diperlukan untuk menghimpun informasi terbaru, isu-isu tematik dan menyelaraskan kegiatan konservasi harimau sumatra dari berbagai UPT dan mitra terkait. Hasil pertemuan ini juga akan menjadi informasi dalam upaya penyusunan STRAKOHAS selanjutnya. Hal ini diharapkan mampu menciptakan kesinambungan dengan STRAKOHAS sebelumnya dan juga strategi pemerintah lainnya”, jelas Indra.

Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi., M.Sc mengucapkan selamat datang di Ranah Minang “The Land of Tiger”, karena harimau sumatra sangat berkaitan erat dengan budaya minangkabau. Dalam kesempatan yang sama, Iwan Prayitno juga menyampaikan harapannya untuk konservasi harimau sumatra. “Masyarakat Sumatera Barat mempunyai hubungan sangat erat dengan keberadaan harimau sumatra, untuk itulah kami mengundang bapak ibu segenap hadirin hari ini untuk menata langkah ke depan dalam upaya konservasi harimau Sumatra”. Ujar Irwan Prayitno

“Adanya dinamika pemerintahan, pembangunan, perubahan lahan, dan tantangan kedepan menjadikan STRAKOHAS yang baru (2019-2029) perlu menjadi acuan kita bersama dalam menyusun kebijakan pembangunan sehingga bisa menjamin upaya konservasi harimau”. Pungkasnya.

Konsultasi Publik SRAK Harimau Sumatra region Sumatera Barat ini ditutup oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Yozarwardi UP, S.Hut, M.Si. Yozwardi turut prihatin dengan banyaknya konflik jerat yang makin marak, selain itu Yoswardi juga berharap dokumen SRAK dapat dijalankan oleh seluruh lapisan, “Kadishut menentang keras pemasangan jerat dan mengecam para pelaku yang memasang jerat hingga melukai satwa liar. Kadishut juga mendorong implementasi SRAK HS melalui kerjasama berbagai sektor dari pusat hingga ke daerah”. Pungkas Yozwardi.

———-

Kontak Media (narahubung):

  1. Balai KSDA Sumatera Barat                : Rusdiyan Ritonga (+62 812-6695-3545)
  2. Ketua Forum HarimauKita                  : Ahmad Faisal (+62 813-8060-2497)


Author: Forum HarimauKita
Sumatran Tiger Conservation Forum