Sapu Jerat : Memutus Rantai Konflik Manusia-Harimau

Masyarakat dapat secara aktif berperan dalam konservasi untuk menciptakan keharmonisan antara manusia, sumberdaya alam dan berbagai satwa liar. Forum HarimauKita, Tiger Heart bersama BKSDA Bengkulu dan masyarakat menginisiasi sapu jerat di Bengkulu. Berlokasi di bentang alam Balai Rejang Selatan, sapu jerat akan berlangsung selama 02-06 Agustus 2018. Kegiatan ini melibatkan 18 orang yang akan membersihkan jerat harimau, jerat mangsa harimau serta mendata aktivitas ilegal.

Jerat harimau yang dipasang oleh pemburu liar tidak hanya mengakibatkan korban harimau saja, namun juga satwa mangsa harimau bahkan berpotensi mengenai warga desa sekitar. Selama kurun 5 tahun terakhir, ribuan jerat berhasil dimusnahkan oleh tim patroli polisi hutan (polhut) dan lembaga mitra di Sumatera. Provinsi Bengkulu merupakan daerah yang menjadi salah satu target perburuan liar harimau sumatera.

Perburuan dapat menyebabkan kematian harimau dan berpotensi menimbulkan perilaku yang berhubungan dengan konflik. Salah satu contohnya, harimau induk yg sedang membesarkan dan melatih anak, jika terjerat maka anakannya akan kehilangan panduan induk. Induk yang kehilangan anak pada suatu kawasan hutan akibat perburuan akan berpotensi untuk mencari anaknya sebagai bentuk ikatan antara induk dan anak. Bentuk ikatan antara induk dan anak ini sering kita jumpai pada hewan-hewan peliaharaan di sekitar kita dan hal tersebut juga berlaku pada satwa liar.

Deforestasi dan fragmentasi habitat harimau sumatera di lanskap Bukit Balai Rejang Selatan semakin meluas dengan adanya ijin pembukaan hutan untuk perusahaan perkebunan skala besar. Akibatnya, akses pemburu liar untuk memasuki habitat harimau yang masih tersisa menjadi mudah. Selain itu, kondisi tersebut juga memicu peningkatan frekuensi konflik antara manusia dengan harimau.

Berdasarkan data dari BKSDA Bengkulu tercatat dalam periode 2008 – 2015 telah terjadi 81 kasus konflik antara manusia dengan harimau di Provinsi Bengkulu. Daerah rawan konflik manusia dengan harimau (KMH) juga menjadi daerah target perburuan liar harimau sumatera di Bengkulu. Hal ini telah meresahkan para praktisi konservasi harimau sumatera di Bengkulu, juga meresahkan warga desa sekitar habitat harimau tersebut.

Kondisi tersebut mendorong Forum HarimauKita dan Tiger Heart bersama para mitra untuk melakukan kegiatan patroli sapu jerat. Bersama dengan itu juga melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan perburuan liar harimau sumatera. Dengan membersihkan habitat dari jerat, kita berangsur memperbaiki kondisi dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Forum HarimauKita (FHK) melalui Laksmi Datu Bahaduri menyatakan sangat mengapresiasi bentuk keterlibatan masyarakat dalam konservasi harimau dan juga berharap agar hal ini dapat berjalan dengan lancar serta dapat memotivasi berbagai pihak untuk berkolaborasi.

Senada dengan FHK, Jaja Mulyana, S.Sos selaku Plt. Balai KSDA Bengkulu mendukung kegiatan ini karena sangat positif dan berdampak baik bagi keberadaan harimau sumatera maupun masyarakat sekitar kawasan konservasi. Menurutnya, kegiatan ini waktunya tepat karena saat ini sudah memasuki musim kemarau dan mulai ada titik api. Biasanya harimau akan mendekat ke pemukiman.

Patroli sapu jerat ini bertujuan untuk mencegah adanya korban harimau terjerat dan mencegah perburuan liar. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana dalam menjalin kolaborasi berkelanjutan antar pihak dalam upaya pencegahan perburuan harimau dan penanggulangan konflik antara manusia dengan harimau. Serta mengedukasi dan mendorong kepedulian masyarakat agar dapat terlibat langsung dalam upaya pelestarian harimau di Bengkulu.

Sapu jerat akan berlangsung selama 02-06 Agustus 2018 yang berlokasi di Bentang Alam Balai Rejang Selatan, Bengkulu yang merupakan daerah yang memiliki frekuensi tertinggi kasus KMH (Konflik Manusia-Harimau) dan perburuan liar harimau sumatera.

Pembersihan jerat harimau akan dilakukan pada kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Daun, Hutan Produksi (HPT) Air Talo, Hutan Lindung (HL) Bukit Sanggul dan Hutan Produksi (HP) Bukit Rabang. Titik awal keberangkatan terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu Desa Kuro Tidur Kabupaten Bengkulu Utara, Desa Mekarjaya Kabupaten Seluma dan Desa Kayu Elang, Kabupaten Seluma. Kegiatan ini diikuti oleh 18 orang yang terbagi menjadi 3 tim.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari Forum HarimauKita, Tiger Heart Bengkulu (Jaringan Relawan Forum HarimauKita), Balai KSDA Bengkulu, Lingkar Institut, Mahasiswa Pecinta Alam Bengkulu, Barisan Pemuda Adat Nusantara, Green Seblat Bengkulu, Madyapala UMB, TEK PALA Rejang Lebong, PALASOSTIK FISIP UNIB, MAHUPALA FH UNIB, KAMPALA UNIB, KPA Gendong Adventure, Mapetala Bengkulu, Pulkanik UNIB, BPAN, Komunitas Mangrove Bengkulu, Federasi Panjat Tebing indonesia, AKAR Foundation, LSM Kanopi, dan Media ANTARA.

Sapu jerat ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan Global Tiger Day 2018 yang diselenggarakan pada 9 kota di Indonesia yakni Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bengkulu, Bandar Lampung, dan Jakarta. Pada tahun ini tema yang diangkat yakni “Kearifan Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera”.

 

Narahubung:

Yanuar Ishaq Dc

Communication and Information Officer-Forum HarimauKita

yanuar.ishaq.dc@harimaukita.or.id



Author: Forum HarimauKita
Sumatran Tiger Conservation Forum

Leave a Reply