Majelis Ulama Indonesia Siapkan Fatwa untuk Selamatkan Harimau Sumatera

Photo by: @andyps

Penghormatan Islam terhadap satwa merupakan ajaran yang sudah jelas dituangkan dalam Al-quran. Hal ini ditegaskan oleh Professor Nahar Nahrawi, Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam acara Dialog Pelestarian Harimau Sumatera dan Satwa Langka di Jakarta 13 Juni 2013.

“Apa yang dilakukan Nabi Nuh dengan membawa hewan masing-masing sepasang merupakan contoh nyata betapa Islam menekankan pentingnya konservasi satwa. Bahkan ada seorang perempuan masuk surga karena menolong anjing yang sedang kehausan. Sudah jelas bahwa kita mengemban amanah melestarikan satwa tersebut agar tidak punah,”jelasnya.

Lebih lanjut ditambahkan, permasalahan yang masih harus dipecahkan bersama adalah bagaimana konsep Islam yang sudah komprehensif ini dilaksanakan oleh para pemeluknya. Selain itu, perlu dicari metode yang efektif untuk memberikan wacana kepada para ustadz dan ustadzah yang merupakan ujung tombak dari dakwah.

Acara yang diselenggarakan di kantor MUI ini diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional dan Lembaga Pemuliaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Majelis Ulama Indonesia (LPSDAL-MUI).

Dilandasi konsep Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah, berarti bahwa manusia bertanggungjawab atas kelestarian bumi dan seisinya. Professor Ernawati Sinaga, Wakil Rektor UNAS menyatakan bahwa konservasi merupakan sebuah keniscayaan. Alquran dan Hadits secara tegas mengatur tentang peran strategis manusia untuk menjaga dan mengelola lingkungan dan melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi.

Krisis moral yang melanda akhir-akhir ini disinyalir menjadi kunci utama rusaknya ekosistem. LPSDAL-MUI sedang menggalakkan gerakan dakwah tentang ecoteologi Islam dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sumberdaya alam yang seimbang antara iman dan takwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Menyelamatkan harimau sumatera dari kepunahan termasuk dalam misi ini. Hal tersebut dijelaskan oleh Dr. Hayu Prabowo, Ketua LPSDAL-MUI.

“Dalam hal ini, manusia akan menjadi subyek dakwah kami mengingat berbagai hukum positif sudah banyak terkait konservasi harimau. Kami memandang perlunya penguatan hukum normatif di masyarakat untuk mendukung upaya konservasi,” jelasnya lebih lanjut.

Acara ini merupakan langkah pertama dari beberapa workshop yang akan diselenggarakan dalam rangka konsultasi. Forum HarimauKita yang diwakili oleh Hariyo T Wibisono memberikan presentasi tentang status konservasi dan peran masyarakat dalam konservasi harimau sumatera.(HAW)

 



Leave a Reply