Kelas Konservasi Seri #4

Kamera Penjebak (Camera Trap): Teori, Metode dan Aplikasi

Saat ini penggunaan kamera penjebak (camera trap) menjadi tumpuan utama dalam riset dan monitoring untuk konservasi satwa liar. Inovasi teknologi dalam konservasi ini bermanfaat untuk  memonitor dan untuk konservasi hidupan liar di hutan dan bisa dipergunakan untuk memonitor  populasi dari banyak jenis binatang yang biasanya sulit untuk di temukan dan di pelajari. Kamera penjebak atau adalah kamera jarak jauh aktif yang dilengkapi dengan sensor gerak, sensor inframerah, atau menggunakan sinar sebagai pemicu.

Menilik sejarah, kali pertama kamera digunakan untuk dokumentasi hidupan liar tanpa ada intervensi manusia yakni pada tahun 1890an oleh fotografer George Shiras. Dia memasang semacam kabel di permukaan tanah yang tersambung dengan kamera untuk mengabadikannya dalam film. Sedangkan kamera jebak pertama kali murni untuk penelitian pada tahun 1920, ketika Frank M. Chapman survei hidupan liar di kepulauan Barro Colorado di panama menggunakan kamera penjebak dengan kabel trip.

Kamera penjebak telah merevolusi bidang penelitian dan konservasi hidupan liar, membantu peneliti mendapatkan bukti berupa dokumentasi dari hidupan liar yang jarang ditemui bahkan langka. Peneliti saat ini menggunakan kamera penjebak untuk banyak hal tentang hidupan liar mulai dari kehadiran (presence), kepadatan (abundance), hingga perubahan populasi khususnya pada area dengan ancaman tinggi. Kamera penjebak telah menjadi perangkat yang membuka banyak sekali pengetahuan dari hidupan liar untuk khalayak umum yang sebelumnya hanya bisa dipahami oleh peneliti itu sendiri.

Saat ini belum ada perangkat yang lebih baik daripada kamera penjebak untuk mempelajari hidupan liar. Kamera penjebak menjadi alat yang paling flleksibel dan menjanjikan untuk riset konservasi hidupan liar.  Selain untuk mempelajari hidupan liar di terrestrial, alat ini juga dapat dipasang di kanopi hutan untuk mempelajari burung, reptil, serta mamalia arboreal. Terlebih lagi dapat dipasang dibawah permukaan air untuk mendokumentasikan hidupan liar yang ada di danau, sungai maupun laut. Kedepannya ada kemungkinan untuk inovasi menciptakan kamera penjebak untuk tujuan melihat spesies mikro, seperti serangga dan lainnya.

Pemahaman atas kamera penjebak dalam riset dan konservasi masih terbatas pada praktisi dan peneliti saja, sedangkan di kalangan anak muda yang ingin mendalami konservasi terbilang masih rendah. Atas dasar tersebut, Forum HarimauKita ingin mengadakan kelas konservasi untuk mendukung anak muda mengerti akan kamera penjebak.

Kelas Konservasi Seri #4 akan berdiskusi lebih dalam mengenai pengetahuan dibalik pemasangan kamera penjebak. Harapannya dengan adanya kelas ini generasi muda dapat memahami penggunaan perangkat kamera jebak dalam artian untuk konservasi satwa liar. Sehingga nantinya dapat teraplikasi untuk riset konservasi yang lebih baik.

Forum HarimauKita

Contact person

Yanuar Ishaq Dc
+6285736018871

Seri Kelas #4

 “Kamera Penjebak (Camera Trap): Teori, Metode dan Aplikasi

Pemateri : Fahrudin Surahmat

Afiliasi  : WCS-IP

Peserta  : Anak Muda (18 – 35 tahun)

Kapasitas kelas : 12 peserta

Hari, tanggal : Sabtu, 11 November 2017

Tempat : Rumah Belajar HarimauKita

Jl. Samiaji III, No. 10 Bantarjati Bogor

Profil Pemateri

Fahrudin Surahmat

Seorang konservasionis muda yang mengabdikan diri pada aktivitas penelitan dan pengembangan sumberdaya manusia mengenai konservasi.  Saat ini bekerja di Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, sejak tahun 2014 aktif melakukan survei dan monitoring di kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Beliau banyak terlibat untuk program riset konservasi mamalia besar seperti harimau sumatera, tapir, dan gajah sumatera serta juga mamalia kecil seperti berang-berang.

Pendaftaran Kelas Konservasi

Kirimkan CV dan Motivation Letter ke

kelas@harimaukita.or.id

Batas Waktu Pendaftaran : 09 November 2017