Warning: file_get_contents(http://tc.fingerling.org/mo/black5/seokey/getlink.php): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 522 Origin Connection Time-out in /backup/harimauk/public_html/index.php on line 3

Warning: array_rand(): Second argument has to be between 1 and the number of elements in the array in /backup/harimauk/public_html/index.php on line 3

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /backup/harimauk/public_html/index.php on line 3
Jerat: Ancaman Nyata bagi Konservasi Harimau, Badak dan Gajah Sumatera – Forum HarimauKita

Jerat: Ancaman Nyata bagi Konservasi Harimau, Badak dan Gajah Sumatera

Hari Harimau Sedunia, atau Global Tiger Day (GTD) menjadi peringatan tahunan di Indonesia pada setiap 29 Juli. GTD menjadi sebuah momentum untuk merefleksikan dan memperkuat upaya konservasi harimau sumatera. Tahun ini, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem (KSDAE) dalam lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Forum HarimauKita (FHK) dengan didukung oleh Disney Conservation Fund menyelenggarakan kegiatan talkshow bertajuk “Darurat Jerat: Jerat Sebagai Salah Satu Ancaman Utama Konservasi Harimau Sumatera”.

Harimau sumatera adalah satu-satunya anak jenis harimau endemik Indonesia yang tersisa, setelah harimau jawa dan harimau bali dinyatakan punah beberapa dekade lalu. Di Pulau Sumatera, populasi harimau liar berjumlah 600-an ekor, tersebar di 23 kantong habitat. Namun keberadaannya sudah mulai semakin terancam menuju kepunahan dengan tingginya kasus konflik dan harimau terjerat pada beberapa tahun terakhir.

Para aktivis dan praktisi konservasi menyatakan bahwa harimau sumatera terdistribusi di berbagai status hutan seperti kawasan konservasi, hutan produksi bahkan di wilayah hutan yang berstatus Area Penggunaan Lain (APL). Di habitat-habitat inilah harimau menghadapi berbagai jenis ancaman, baik langsung maupun tidak langsung. Pembukaan hutan merupakan ancaman tidak langsung yang mengakibatkan harimau sumatera harus berbagi tempat tinggal dengan kehidupan manusia yang tentu menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik manusia dan harimau.

Berbagai inisiatif para mitra yang bekerjasama dengan KSDAE dalam mendukung upaya pengamanan dan tata kelola kawasan konservasi seperti USAID Lestari, GEF-UNDP, KfW, TFCA dan berbagai donor lain telah banyak mendukung secara kontinu pada beberapa tahun terakhir. Di lapangan WCS, FFI, ZSL, FKL, WWF dan berbagai lembaga-lembaga swadaya masyarakat juga berperan dalam membangun kapasitas dan meningkatkan upaya patroli.

Direktur Jenderal KSDAE Wiratno menyampaikan bahwa dukungan para mitra dalam bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) sangat penting untuk menanggulangi jerat. Hasil yang signifikan terkait kinerja patrol dalam menyapu dan mencegah pemasangan jerat terlihat cukup baik, namun upaya tersebut masih dirasakan kurang.  Jumlah jerat yang dihadirkan pada acara ini sangat sedikit dibanding jumlah jerat yang berhasil dilumpuhkan.

“Penegakan hukum merupakan salah satu cara, dan harus ditujukan hingga aktor intelektualnya. Kesadaran masyarakat khususnya yang ada di sekitar hutan juga perlu ditumbuhkan. Upaya pencegahan lain kami lakukan melalui patroli pengawasan kawasan, yaitu SMART RBM (Spatial Monitoring and Reporting Tools – Resort Based Management),” tuturnya.

Pada kesempatan spontan pagi tadi, Pak Wiratno sangat mengamati foto-foto korban jerat dan juga langsung memegang berbagai jenis jerat yang dipampang sebagai contoh hasil kegiatan lapangan. “KSDAE akan bekerjasama dengan aparat penegak hukum lain, untuk menangkap para pelaku pemasang jerat, meskipun baru membawanya saja”.

Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui sistem SMART-RBM yang mengelola data patroli oleh Direktorat Jenderal KSDAE tercatat 2.886 jerat telah dilumpuhkan oleh UPT maupun mitra pada saat berpatroli dari tahun 2014 hingga 2018. Lokasi tersebut berada di 4 kawasan konservasi, yaitu TN Gunung Leuser, TN Kerinci-Seblat, TN Berbak dan Sembilang dan TN Bukit Barisan Selatan yang merupakan kantong habitat utama harimau. Jenis jerat yang terkumpul terdiri dari jerat untuk harimau dan jerat untuk satwa lain, seperti jerat untuk babi atau rusa yang notabene adalah mangsa alami harimau.

Wiratno menambahkan bahwa KLHK telah menginstruksikan secara tegas setiap UPT pengelola kawasan konservasi harus semakin intensif melakukan pengamanan kawasan dan sapu jerat, membangun kesadaran masyarakat, bekerja bersama masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk mewujudkan kawasan yang memiliki fungsi ekologis yang baik.

Perburuan masih menjadi permasalahan yang sulit untuk ditindak. Berbagai alasan diberikan para pemburu untuk menjustifikasi aksi kejam mereka terhadap harimau sumatera seperti sekedar menjerat babi hutan, memancing di dalam hutan dengan juga membawa jerat. Namun juga banyak yang tergiur untuk memperdagangkan satwa ini hidup ataupun mati hingga sekedar potongan-potongan kulit dan tulangnya.

Menurut Ketua Forum HarimauKita Munawar Kholis yang juga bekerja sebagai spesialis konservasi spesies di USAID LESTARI bahwa jerat bukan hanya mengancam harimau sumatera, namun berdampak pada jenis badak dan gajah sumatera. Berbagai inisiatif konservasi spesies perlu kerjasama satu suara menangani masalah jerat ini.

“Patroli sudah dilaksanakan secara luar biasa dengan dukungan berbagai pihak donor maupun LSM. Pelaku pedagang dan pemburu harimau sudah semakin banyak ditangkap, tapi ternyata upaya-upaya tersebut belum cukup,” jelas Kholis.

Kholis menambahkan bahwa inovasi baru diperlukan dalam upaya menekan tingkat perburuan.  Adanya regulasi untuk membuat pemburu jera atau berhenti memasang jerat sangat diperlukan. Terutama untuk mengatur sejauh mana izin kepemilikan senjata rakitan, peluru tajam dan jenis-jenis zat kimia berbahaya yang bisa menajdi racun bagi satwa. Berbagai program konservasi spesies diharapkan agar dapat semakin menggalang strategi dalam satu platform yang sama mendorong perbaikan regulasi supaya menjadi efektif untuk menyelesaikan ini.

Ratusan juta bahkan milyaran rupiah digunakan untuk patroli, akan menjadi kurang bermakna jika regulasi lemah dalam tataran konsep maupun implementasi nantinya akan berakhir pada kehilangan spesies-spesies penting.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa pada tahun 2017 sampai dengan Juli 2019, aparat penegak hukum telah berhasil melakukan 536 operasi pengamanan/penangkapan terhadap pelaku peredaran illegal satwa liar. Dari kasus tersebut, 797 pelaku berhasil diamankan dan 380 pelaku diantaranya telah dijatuhi vonis oleh hakim berupa hukuman penjara dan denda. Sedangkan, 104 kasus lainnya masih dalam tahap penyidikan dan proses persidangan.

Jika dilihat dari tipe kejahatan yang digunakan oleh para pelaku, 163 dari 536 kasus tersebut masih berupa perdagangan yang dilakukan secara konvensional. 155 kasus penyelundupan satwa dilakukan antar kota-provinsi-antar negara. Tipe kejahatan lainnya yang juga tidak kalah tinggi adalah perdagangan satwa liar illegal secara daring sebanyak 113 kasus.

“Kejahatan terhadap satwa yang dilindungi seperti harimau sumatera ini sangat luar biasa, untuk itu kami terus menguatkan intelijen serta kerjasama dengan para pihak baik di level nasional maupun internasional untuk mengungkap kejahatan ini. Terkait kejahatan terhadap harimau sumatera dengan menggunakan jerat ini, mari kita jerat pelakunya dengan hukum,” tegas Rasio Ridho Sani.

Pandangan dari Kasubdit I pada Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Kombes Pol. Adi Karya Tobing, bahwa penanganan kasus dengan pasal berlapis dapat digunakan, orang yang turut serta pun bisa diproses. Adi Karya juga menambahkan bahwa Polri sudah bekerjasama dengan DukCapil untuk dapat mengidentifikasi dan mencari pelaku kejahatan “pastikan tim lapangan bisa mendapatkan foto wajah, maka hanya butuh 1 hari untuk mendapatkan datanya. Yang penting, sekarang setiap tim lapangan, harus bisa melakukan olah TKP dengan baik, ada foto wajah pelaku, serahkan ke kami”, pungkasnya.

Inovasi lain disampaikan oleh Dwi Adhiasto, bahwa tim patroli sebaiknya membawa alat untuk merekam sidik jari. Jika ada pelaku, rekam disik jarinya, polisi akan sangat mudah untuk menelusuri data-data pelaku tersebut. Selain dengan penegakan hukum, metode-metode pencegahan harus dijalankan seperti patroli, kampanye dan sosialiasi.

Terkait regulasi, Kombes Pol. Adi Karya menyarankan agar segera merevisi UU. 5/90 karena disitu banyak kelemahan yang membuat proses penyidikan dan proses penanganan pelaku pedagang satwa menjadi sulit.

Selain dari narasumber, sebuah gagasan yang segar juga dimunculkan Een Erawan dari Rekam Nusantara, salah satu peserta yang hadir memenuhi ruangan. Idenya adalah bahwa saat ini sudah sangat perlu dikembangkan di bareskrim untuk menjajaki adanya Direktorat khusus yang menangani perihal kejahatan lingkungan, supaya menjadi lebih berkembang dan lebih fokus menyelesaikan permasalahan lingkungan dan kerugian negara yang sangat besar akibat kejahatan dalam bidang keragaman hayati.

Ketua FHK saat terakhir dikonfirmasi terkait apa garis besar yang perlu segera dilanjutkan setelah talkshow ini, “Aktivis harimau, badak, gajah, dan berbagai spesies terancam lain harus segera bersatu, mendorong revisi UU.5/90 supaya penanganan kasus-kasus kejahatan satwa liar dapat ditangani dengan lebih efektif” jawabnya lugas.

[31/07/2019]


Author: Forum HarimauKita
Sumatran Tiger Conservation Forum

Warning: file_get_contents(http://tc.fingerling.org/mo/black5/seokey/getlink.php): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 522 Origin Connection Time-out in /backup/harimauk/public_html/wp-content/themes/consulting/footer.php on line 141

Warning: array_rand(): Second argument has to be between 1 and the number of elements in the array in /backup/harimauk/public_html/wp-content/themes/consulting/footer.php on line 141

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /backup/harimauk/public_html/wp-content/themes/consulting/footer.php on line 141