Cerita di Balik Kulit Harimau

Photo by: @andyps
Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (10/12), menyita 11 lembar kulit harimau yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 19990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dari rumah Suparno (60), warga di kawasan Tanjung Datuk, Pekanbaru, disita 9 kulit harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan 2 macan kumbang (Panthera pardus).
Suparno adalah pengrajin kulit yang biasa menerima kulit satwa untuk hiasan dinding atau dalam bentuk offset (cetak dasar). Sebagian konsumennya adalah pejabat di Riau. Bagi Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, penyitaan 11 lembar kulit harimau itu menjadi tanda matinya 11 hewan langka yang masih tersisa dari Pulau Sumatera.
Demikian pula bagi Syamsidar, juru bicara World Wide Fund for Nature (WWF) Riau. Kematian 11 harimau itu menjadi bencana bagi pelestarian hewan langka di Indonesia. Penyitaan itu juga menunjukan bahwa satwa langka yang lazim disebut macan itu tetap jadi pesona bagi orang-orang tertentu.
Meskipun dilindungi, orang seperti tak peduli. Konon, ada yang percaya bagian kulit atau tubuh macan yang tak membusuk, seperti kulit, kuku atau kumis, bisa memberikan kekuatan gaib dan kewibawaan pemiliknya. Tak heran jika bagian kulit harimau di pasar bisa laku hingga Rp. 50 juta.
Saat diperiksa di kantor Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Suparno “bernyanyi”. Ia berdalih 11 lembar kulit harimau itu sebagian besar barang titipan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSD) Riau. Untuk menunjukkan dalihnya, pria beruban tersebut menunjukkan bukti surat dengan kop BBKSDA Riau, yang dilengkapi nomor surat BA. 90/IV-17/T2/2011, yang halnya tentang Berita Acara Pengeluaran Barang Inventaris.
Isi surat itu menyebutkan, dua pegawai BBKSDA Riau yaitu Refdi Azmi dan Murmaidin Putraper, menyerahkan delapan lembar kulit kepada pegawai BBKSDA, Suharman Siregar. Delapan lembar kulit harimau itu akan diawetkan dengan cara dicetak. Surat tersebut seolah-olah asli sebab diketahui Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Syahimin, yang menandatanganinya.

Beberapa Kejanggalan
Meski demikian, surat tersebut memiliki kejanggalan jika dibandingkan dengan kondisi sebenarnya. Pertama, dari sisi nomor surat. Sesuai lazimnya surat, kode IV-17/2011 semestinya menunjukkan surat tersebut pada tanggal 17, bulan empat atau April dan tahun 2011. Namun pembukaan surat, justru berbunyi : “Pada hari ini , Kamis 10 Maret 2011.”. Jadi terdapt perbedaan tanggal dan bulan. Kejanggalan kedua, surat itu tidak dibubuhi cap resmi BBKSDA Riau
Ketiga, isi surat BBKSDA tersebut menyatakan menyerahkan delapan lembar kulit harimau. Namun, yang disita ternyata 9 kulit harimau dan 2 kulit macan kumbang. Berarti ada selisih lembar kulit harimau sumatera dan lembar kulit macan kumbang.
Jika surat dikeluarkan pada Maret atau April 2011, itu berarti kondisi kulit harimau tersebut tersimpan cukup lama. Setidaknya, lebih kurang setahun delapan bulan. Faktanya, saat diambil dari rumah Suparno, kulit-kulit harimau masih terlihat segar. Bahkan aroma busuknya masih menyengat.
Budi AW, Direktur Sumatera Partnership Communication Forum, bersama timnya, yang memberikan informasi kepada polisi mengatakan, kulit-kulit tersebut relatif masih baru.
“ Kulit harimau yang direndam hampir dua tahun pasti rusak. Kami lihat kulit-kulitnya masih segar dan dagingnya masih menempel di kulit. Jadi, kulit-kulit itu baru sebulan atau dua bulan.” Kata Budi.
Meskipun suratnya menyebutkan 8 lembar kulit akan diawetkan dengan cara dicetak, 3 lembar kulit diantaranya justru dibuat seperti lembaran karpet lantai atau hiasan dinding.
Sementara enam lembar kulit lainnya masih disimpan di ember yang berisi minyak spirtus. Kepala BKKSDA Riau Sahroji juga menegaskan, tak lazim petugas menitipkan barang ke pihak laim. “ Tak ada urusan BBKSA dengan pengrajin kulit,” ujarnya.
Lalu dari manakah sumber “nyanyian” yang bernada sumbang itu? Kita tunggu saja cerita Suparno di depan meja hijau. (Syahnan Rangkut).
Repost : Kompas Cetak 

Foto : Andrea Akin 


Leave a Reply