Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau

Konflik manusia dan satwa liar adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi satwaliar dan atau pada lingkungannya.

Konflik antara manusia dengan harimau atau lazim disebut konflik manusia-harimau dapat disebabkan oleh faktor diantaranya perilaku harimau, perburuan, ketersediaan makanan dan irisan ruang gerak. Sementara itu, konversi hutan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan jaringan jalan telah mempersempit habitat yang dapat dihuni oleh harimau. Tidak sepernuhnya disadari dan dipahami bahwa konversi hutan di Sumatera serta tingginya aktivitas perburuan satwa telah menyebabkan semakin tinggi juga peluang terjadinya konflik manusia dan harimau. Aktivitas perburuan satwa liar terutama yang merupakan hewan mangsa harimau menurunkan ketersediaan mangsa bagi harimau dan merupakan faktor penyebab secara tidak langsung.

Kedua belah pihak, baik harimau maupun manusia, sama-sama mengalami kerugianatau menjadi korban dari insiden konflik. Manusia kerugian dalam bentuk kehilangan hewan ternak dan korban jiwa serta dampak psikologis. Harimau mengalami kematian atau kerusakan anggota gerak secara permanen, Harimau konflik sebagian ditangkap dan dipindahkan ke fasilitas konservasi ek-situ, sanctuary atau pusat rehabilitasi. Banyak juga individu harimau yang kemudian diracun atau terjerat hingga mati. Indivisu harimau yang memiliki kelayakan pelepasliaran kadangkala ditempatkan dan dikelola tidak tepat sehingga mengalami perubahan perilaku dan ketergantungan terhadap manusia membuat peluang untuk dapat dilepasliarkan makin surut.

Harimau yang berada di pusat-pusat rehabilitasi maupun di sanctuary membutuhkan manajemen yang sesuai, sehingga harimau yang memang masih layak untuk dilepasliarkan dapat dikelola secara tepat dan dapat difungsikan untuk memperbaiki kondisi populasi di alam baik jumlah populasi maupun keragaman genetik.

Dalam upaya penanggulangan konflik, tindakan tindakan pencegahan konflik seharusnya merupakan hal yang tidak boleh dilupakan. Namun pada kenyataannya dalam kurun 10 tahun terakhir, upaya pencegahan masih kurang terprogram. Kegiatan penanganan konflik banyak didominasi respon insiden konflik saja.

Insiden konflik manusia dan harimau manusia umumnya sulit diprediksi kapan terjadinya, namun dengan mempelajari perilaku alami harimau, data sebaran dan penggunaan ruang oleh harimau, data insiden konflik yang pernah terjadi, wilayah aktiftas manusia,
pola beternak masyarakat, perburuan satwa mangsa dan kondisi topograf, kita dapat memperkirakan lokasi yang memiliki potensi tinggi terjadinya KMH. Kegiatan pencegahan yang perlu ditempuh antara lain sosialisasi kepada masyarakat, aparat desa dan instansi pemerintah yang terkait di wilayah-wilayah berpotensi konflik untuk tujuan meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik dan juga mampu mendukung SATGAS dalam melaksanakan pencegahan dan penanganan awal secara tepat untuk insiden konflik yang masih dalam tingkat resiko rendah.