SMART Patrol dan Konservasi di Indonesi

Kementerian LHK pada periode tahun 2015-2019 mencanangkan target-target program, salah satu diantara target-target tersebut adalah peningkatan populasi 25 spesies kunci sebesar 10%. Dalam rangka mencapai target diatas, UPT-UPT mengembangkan program kerjanya.

Peningkatan populasi sangat berhubungan dengan daya dukung dan kondisi habitat, interaksi antara masyarakat dengan kawasan dan kegiatan-kegiatan pemanfaatan sumber daya alam serta jasa lingkungan.

Kawasan yang kehilangan daya dukungnya perlu diintervensi secara strategis untuk mengembalikan daya dukungnya terlebih dahulu, monitoring kawasan, inventarisasi potensi dan patroli rutin. Kondisi habitat dan tingkat ancaman terhadap spesies (perburuan, perdagangan) perlu dimonitor dan ditanggulangi secara baik guna memberikan ruang bagi peningkatan populasi secara alami.

Kelompok Kerja SMART dibentuk oleh Direktorat Kawasan Konservasi untuk mengembangkan sistem informasi dengan basis data SMART Patrol untuk mengelola data dan informasi kawasan. Kelompok ini telah terdiri dari anggota-anggota yang berafiliasi dari berbagai NGO dan pemerintah dalam membangun sistem ini serta telah mulai diimplementasikan di berbagai kawasan konservasi dengan pendampingan dari NGO.

WCS mengembangkan kerjasama implementasi SMART dengan Taman Nasional (TN) Bukut Barisan Selatan, TN. Gunung Leuser, TN. Way Kambas, dan TN. Bogani Nani Wartabone, ZSL mengembangkan hal serupa di TN Berbak-Sembilang, BKSDA Sumatera Selatan serta di area konsesi, FFI di Ulu Masen dan TN. Kerinci Seblat, USAID-Lestari bersama WCS di KPHK SM. Rawa Singkil. Beberapa kawasan lain di wilayah Indonesia timur juga telah memulai mengembangkan SMART seperti di CA Cycloop dan TN Lorentz. Selain di dalam kawasan konservasi FFI juga mengembangkan sistem monitoring ini pada hutan desa di beberapa wilayah di Aceh dan Jambi.

Kelompok Kerja SMART telah menyusun buku pedoman implementasi SMART termasuk juga didalamnya bahan-bahan pelatihan dan buku ajar. Buku pedoman ini menjadi bagian penting bagi implementasi SMART sebagai informasi bagi pengelola kawasan dalam mendisain sistem informasi dan pengelolaan data kegiatan lapangan. SMART lebih dikhususkan diimplementasikan bagi kawasan-kawasan yang belum memiliki sistem informasi yang telah berjalan dengan baik.

buku_smart Buku Pedoman Implementasi SMART di Kawasan Konservasi

KELOMPOK KERJA SMART
Direktorat Kawasan Konservasi – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Cetakan pertama, September 2016
43 halaman.

pdf-icon  Download pdf