Annual Meeting FHK 2019 – Kolaborasi Multi-Stakeholder dalam Upaya Konservasi Harimau Sumatra di Provinsi Sumatera Utara

Jerat merupakan salah satu isu darurat yang masih mengancam keragaman hayati di Indonesia, termasuk harimau sumatera. Jerat yang dipasang di wilayah jelajah harimau sumatera dapat melukai harimau hingga menimbulkan kecacatan atau kematian, sekaligus meningkatkan potensi konflik antara harimau dan manusia. Melalui tagar #DaruratJerat, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam (KSDAE) bersama Forum HarimauKita telah menyampaikan ajakan kepada seluruh pihak untuk ikut serta berpartisipasi aktif dalam upaya memerangi jerat.

Upaya memerangi jerat tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Perlu kerjasama berbagai pihak dari mulai pemerintah, lembaga non pemerintah, hingga instansi akademik dan swasta untuk dapat menanggulangi isu jerat dengan lebih efektif. Salah satu pihak yang memegang peranan krusial dalam upaya melawan jerat adalah pemegang hak pemanfaatan konsesi dan kesatuan pengelolaan hutan (KPH).

Kolaborasi antara pihak pemerintah dengan pihak swasta dalam penanggulangan isu konservasi merupakan salah satu topik yang disampaikan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, dalam kegiatan Annual Meeting IX Forum HarimauKita di Madani Hotel Medan, 31 Agustus 2019. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa pertemuan antara pihak BBKSDA dan KPH wilayah Sumatera Utara telah diinisiasi pada tanggal 16 Agustus 2019. Melalui pertemuan yang dihadiri pihak pemerintah, KPH, dan lembaga non pemerintah (NGO), masing-masing pihak berkesempatan untuk menyampaikan aspirasi terkait upaya perlindungan satwa liar di kawasan non-konservasi.

“Kami mendorong kesatuan pengelolaan hutan untuk lebih proaktif dalam mendukung kegiatan konservasi seperti patroli dan survei.” Papar Hotmauli dalam sesi diskusi. Optimalisasi pengelolaan terintegrasi kawasan hutan berbasis lansekap merupakan salah satu strategi kunci pengelolaan populasi harimau sumatera di luar kawasan konservasi. Strategi tersebut sejalan dengan tiga komponen utama konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan jenis.

Dalam momentum yang sama, Hotmauli juga menyampaikan aspirasi bagi Forum HarimauKita untuk dapat semakin menggiatkan kolaborasi terutama pada penanganan kasus-kasus konflik manusia-harimau. Sebagai forum yang notabene memiliki anggota dari berbagai latar belakang, Forum HarimauKita mampu menjangkau lebih banyak lapisan dengan pendekatan yang lebih beragam. Kolaborasi aktif antara BBKSDA Sumatera Utara, Kesatuan Pengelolaan Hutan, dan Forum HarimauKita diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk terus meningkatkan upaya konservasi dan penanganan konflik manusia-harimau khusunya di Sumatera Utara.

[Medan, 31 Agustus 2019]



Author: Forum HarimauKita
Sumatran Tiger Conservation Forum