Galang Kebersamaan Penyelamatan Harimau Sumatera

Dalam rangka hari harimau sedunia (Global Tiger Day) yang dirayakan setiap 29 Juli, para pemerhati konservasi harimau sumatera melakukan serangkaian kegiatan dalam usahanya untuk melindungi harimau sumatera agar tetap lestari  di alam.

Kegiatan yang tengah berlangsung saat ini yakni sapu jerat harimau yang dilaksanakan pada 02-06 Agustus 2018 yang berlokasi di Bentang Alam Balai Rejang Selatan, Bengkulu. Area tersebut merupakan daerah yang memiliki frekuensi tertinggi kasus KMH (Konflik Manusia-Harimau) dan perburuan liar harimau sumatera di Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan data BKSDA Bengkulu, telah tercatat 81 kasus konflik antara manusia dengan harimau di Provinsi Bengkulu selama 2008 – 2015. Daerah rawan konflik manusia dengan harimau (KMH) menjadi target perburuan liar harimau sumatera di Bengkulu. Kondisi ini telah meresahkan para praktisi konservasi harimau sumatera dan warga desa sekitar.

Jerat harimau yang dipasang oleh pemburu liar tidak hanya mengakibatkan korban harimau saja,  juga satwa mangsa harimau bahkan berpotensi kepada warga sekitar. Selama kurun 5 tahun terakhir, ribuan jerat berhasil dimusnahkan oleh tim patroli polisi hutan (polhut) dan lembaga-lembaga mitra di Sumatera.

Kondisi tersebut mendorong Forum HarimauKita dan Tiger Heart bersama para mitra dan masyarakat untuk melakukan kegiatan patroli sapu jerat dan upaya pencegahan perburuan liar harimau sumatera.

Laksmi Datu Bahaduri dari Forum HarimauKita (FHK) mengapresiasi bentuk keterlibatan masyarakat dalam konservasi harimau. “ Dengan membersihkan habitat dari jerat, kita berangsur memperbaiki kondisi dan menjaga keseimbangan ekosistem. Kami berharap hal ini dapat berjalan lancer dan dapat memotivasi berbagai pihak untuk berkolaborasi”, jelas Laksmi.

Pembersihan jerat harimau dilakukan di Hutan Lindung (HL) Bukit Daun, Hutan Produksi (HPT) Air Talo, Hutan Lindung (HL) Bukit Sanggul dan Hutan Produksi (HP) Bukit Rabang. Kegiatan ini diikuti oleh 18 orang yang terbagi menjadi 3 tim.

Menurut Jaja Mulyana, Plt. Balai KSDA Bengkulu kegiatan ini sangat positif dan berdampak baik bagi keberadaan harimau sumatera maupun masyarakat sekitar kawasan konservasi. “Kegiatan ini waktunya tepat karena saat ini sudah memasuki musim kemarau dan mulai ada titik api, biasanya harimau akan mendekat ke pemukiman”, tambah Jaja.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari Forum HarimauKita, Tiger Heart Bengkulu (Jaringan Relawan Forum HarimauKita), Balai KSDA Bengkulu, Lingkar Institut, Mahasiswa Pecinta Alam Bengkulu, Barisan Pemuda Adat Nusantara, Green Seblat Bengkulu, Madyapala UMB, TEK PALA Rejang Lebong, PALASOSTIK FISIP UNIB, MAHUPALA FH UNIB, KAMPALA UNIB, KPA Gendong Adventure, Mapetala Bengkulu, Pulkanik UNIB, BPAN, Komunitas Mangrove Bengkulu, Federasi Panjat Tebing indonesia, AKAR Foundation, dan LSM Kanopi.

Rangkaian Penyelamatan Harimau Sumatera

Tari Siluek Harimau Singgalang, salah satu produk budaya yang terinspirasi dari harimau sumatera.

Peringatan hari harimau sedunia secara serempak dilaksanakan di 9 kota di Indonesia yakni Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bengkulu, Bandar Lampung, dan Jakarta. Tema tahun ini yaitu “Kearifan Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera”.

Irvan Prasetyo selaku koordinator Tiger Week 2018 menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Tiger Week diselenggarakan untuk menggugah kembali kesadaran kita tentang kearifan lokal yang mulai luntur. “Seberapa banyak yang telah kita ketahui tentang kearifan yang dihasilkan dari kedalaman jiwa leluhur  dalam menghormati alam dan isinya termasuk harimau”, jelas Irvan.

Kota Padang dan Pariaman, Sumatera Barat menjadi lokasi dalam rangkaian hari harimau sedunia. Rangkaian ini dilakukan selama 7 hari penuh (Tiger Week 2018). Tiger Week dibuka dengan kegiatan berbagi pengalaman serta ilmu pengetahuan terkait konservasi antar generasi yang bernama Rufford Small Grant Conference (RSGC). Konferensi yang berlangsung pada 23-24 Juli 2018 ini dihadiri oleh 200 peserta dan 16 penerima hibah The Rufford Foundation di gedung Convention Hall Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

Pelatihan investigasi dan advokasi dalam memperkuat upaya pelestarian harimau sumatera yakni dengan membangun kesepahaman terkait perdagangan satwa liar serta upaya advokasi ke pemangku kepentingan juga dilakukan bersamaan kegiatan Jambore Tiger Heart yang berlangsung pada 24-25 Juli 2018 di Whizz Hotel Padang, Sumatera Barat. Pertemuan anggota Forum HarimauKita, sebagai forum konservasi harimau sumatera ke-8 telah dilakukan pada 27-28 Juli 2018 bertempat di Lembah Harau, Padang.

Puncak acara Tiger Week pada 29 Juli yaitu Tiger Festival di Pantai Gandoriah, Pariaman. Semarak Tiger Festival dimulai dengan kegiatan Run for Tigers 5 K, dengan donasi pendaftaran untuk aksi konservasi harimau sumatera. Kegiatan lain pada Tiger Festival yaitu talk show, lomba mewarnai, lomba cipta puisi, pameran foto dari kontes foto tentang alam dan satwa liar, serta stand exhibition, dan Tari Siluek Harimau Singgalang.

Mukhlish Rahman, Walikota Pariaman mengatakan bahwa penting untuk menjaga kelestarian budaya sebagai aset negara dan daerah yang insipirasinya dari harimau sumatera. “Mari kita jaga bersama harimau sumatera serta kearifan lokal di dalamnya”, tambah Mukhlish.

Rangkaian kegiatan selama sepekan ini merupakan kolaborasi antar pihak yakni Forum HarimauKita, Tiger Heart, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Kota Pariaman, Universitas Andalas, Disney Conservation Fund, Sumatran Tiger Project, GEF-UNDP, The Rufford Foundation, Fauna-Flora International – Indonesia Programme, Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, WWF Indonesia, Zoological Society of London – Indonesia Program, Wander, Greeners, dan Warna Fm.

 

 

Narahubung:

Yanuar Ishaq Dwi Cahyo

Communication and Information Officer

Forum HarimauKita

yanuar.ishaq.dc@harimaukita.or.id

 



Leave a Reply