Bukan Salah Harimau Ataupun Anak TK, Lalu Siapa?

Ilustrasi : Arena peraga untuk foto bersama di Secreet Zoo, Jatim Park II-Tripadvisor.com

Ilustrasi : Bayi Harimau Bengal-Flickr.com

Musibah yang menimpa Triyana Ayu Putri, siswi TK asal Doho, Kabupaten Kediri menjadi pemberitaan yang menghebohkan karena bocah kecil tersebut mendapatkan cakaran harimau benggala saat akan berswafoto. Peristiwa tersebut terjadi pada selasa lalu (14/3/2017) di Jawa Timur Park II , Kota Batu-Jawa Timur. Rombongan rekreasi sekolah TK Dharmawanita Doko histeris dan lari ketakutan saat berpapasan dengan pawang yang menuntun bayi harimau benggala untuk berswafoto. Harimau benggala berumur 6 bulan tersebut panik dengan jeritan rombongan dan menghampiri salah satu anak TK yang terdekat. Pelukan tersebut membawa luka dan trauma bagi keduanya baik bagi putri yang mendapatkan operasi setelahnya maupun bagi anak harimau tersebut. Dari sisi keduanya mereka adalah korban. Korban dari arena yang tak semestinya mereka bertemu dan melakukan kegiatan bersama, swafoto.

Forum Harimaukita sebagai forum komunikasi yg dibentuk melalui amanat Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera sangat menyesalkan akan kejadian ini. Praktek seperti ini (swafoto dengan objek satwa liar) merupakan pelanggaran terhadap aspek-aspek animal welfare (kesejahteraan satwa). Berbagai pihak perlu memperbaiki konsep pengelolaan satwa liar ek-situ secara berkemanusiaan.

Satwa yang digunakan untuk hewan peragaan terutama untuk berswafoto berkebalikan dengan prinsip kesejahteraan satwa yang harusnya dianut oleh kebun binatang.  Terlihat bahwa berswafoto bukan perilaku alami dari harimau, terlebih lagi dihadapkan pada rombongan manusia secara dekat dan langsung tentunya akan menimbulkan stress dan takut bagi satwa tersebut. Seperti yang dilansir di detik.com yang mewawancarai Marketing and Public Relation Manager dari Jatim Park Group, Titik S Ariyanto, “penyerangan ke pengunjung menunjukkan bahwa hewan mengalami stress”. Sebaiknya aktivitas yang menciptakan stress seperti arena untuk berswafoto bersama satwa ditiadakan sepenuhnya untuk menghindari kejadian serupa.

Kita masih ingat kejadian tahun lalu (11/05/2016) yang menimpa dokter hewan Esthi Octavia di Waduk Gajah Mungkur (WGM) yang menjadi korban diinjak gajah setelah berswafoto di dekatnya. Hal tersebut terjadi karena ketidakmampuan manusia membaca perilaku satwa. Tentunya kita tak mau mengulangi dan tak mau korban lainnya muncul di kemudian hari atas kelalaian manusia. Karena seberapapun kita mengawasinya satwa liar tidak akan bisa ditebak perilakunya bahkan ketika kita berpikir sudah menjinakkannya.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. 31 Tahun 2012 tentang Lembaga Konservasi pasal 29 tentang larangan bagi lembaga konservasi, dalam hal ini kebun binatang, mengelola satwa tidak sesuai dengan etika dan kesejahteraan satwa. Jika hal tersebut terjadi, sanksi administratif berupa perhentian sementara, denda hingga pencabutan izin dapat dikenakan pada lembaga tersebut. Kabar terkini terkait pengelola jatim park masih diselidiki oleh pihak kepolisian tentang peristiwa tersebut. Sedangkan dari pihak pengelola sendiri bersedia bertanggungjawab atas penyembuhan dan pemulihan putri.

Di lain hal, kejadian tersebut tentunya menjadi perhatian publik dikarenakan judul berita yang menghebohkan atau berlebihan. Satu hal yang perlu dicermati dari pemberitaan tersebut adalah dari segi penulisan serta penggunaan istilah yang cenderung menyalahkan satwa liar, pada kasus ini adalah harimau. Pada beberapa media online memiliki perbedaan antara judul dan isi berita seperti isi berita dijelaskan dicakar tapi judul atau headline berita ditulis diterkam. Beberapa media menggunakan harimau dewasa, bahkan ada yang menggunakan singa dewasa atau singa betina dalam ilustrasi beritanya. Hal tersebut kurang tepat dilakukan karena media tentunya juga wadah pembelajaran. Dalam kesempatan lain Prof Gono Semiadi (LIPI) dan Ridzki R. Sigit (Mongabay Indonesia) menyampaikan pemberitaan harimau ataupun satwaliar di media Indonesia masih menampilkan citra yang buruk bagi publik, harimau diartikan sebagai pemangsa manusia, pemangsa ternak dan mengganggu masyarakat.

Sejarah menyebutkan bahwa Harimau Sumatera dianggap sesepuh dan dihormati oleh masyarakat setempat. Namun sekarang mengalami pergeseran nilai terlebih didukung pemberitaan media kepada masyarakat. Dalam contoh kasus anak kecil yang dicakar harimau ini, tidak hanya anak kecil yang menjadi korban, namun harimau tersebut dalam perspektif lain juga menjadi korban pemberitaan media yang kurang menggali informasi dari narasumber yang ada. Penyampaian berita yang harusnya memberikan pesan moral bukan hanya dibesarkan dan disebarkan pada isi kejadiannya saja.

 

Forum HarimauKita

Bogor, 18 Maret 2017