Menakar Peluang Kepunahan dan Kebanggaan Harimau Sumatera

Pembangunan infrastruktur yang gencar digaungkan oleh Presiden Joko Widodo tentunya mendapatkan respon positif dari masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di wilayah Sumatera. Imbasnya, pemerintah daerah secara simultan bergejolak untuk membangun daerahnya khususnya infrastruktur. Namun pembangunan juga berdampak pada kehidupan mahkluk lainnya yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Akankah pembangunan malah membuat punah satwa kebanggaan Indonesia ini?

Berpacu dengan kepunahan: menelisik 100 tahun ke depan

Saat ini di pulau Sumatera terdapat 23 bentang alam yang masih memiliki dan mendukung kehidupan harimau sumatera. Berdasarkan populasi yang dapat ditampung dari luasan bentang alamnya terdapat 3 kategori yaitu bentang alam besar (> 70 individu ), bentang alam sedang (<70 individu) dan bentang alam kecil (area kecil dan rawa gambut). Jika dianalisa kelangsungan hidup Harimau Sumatera dengan program simulasi PVA (Population Viability Assessment) Vortex 10, didapatkan untuk 100 tahun kedepan akan punah pada bentang alam kecil. Bahkan hal tersebut  dapat terjadi dalam rentang waktu 10 tahun kedepan, mengingat tekanan yang besar terhadap satwa kunci ini.

“Perlindungan terhadap bentang alam kecil penting dilakukan untuk menjaga keragaman genetik” tutur Wulan Pusparini selaku presentator untuk hasil PVA Harimau Sumatera dalam acara Inception workshop Sumatran Tiger Project ”Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatera Landscapes”. Tekanan atau ancaman serius yang dialami oleh harimau sumatera berupa perburuan dan fragmentasi ruang hidup. Kondisi ironis tersebut menantang kita untuk berupaya secara maksimal untuk meminimalisir tekanan dan memperlambat laju kepunahan. Salah satu upaya perlindungannya adalah dengan membangun koridor antar kantong populasi harimau untuk mendukung perpindahan populasi secara alami. Bisa juga penyebaran artifisial atau dibantu oleh tangan manusia yaitu dengan translokasi. Wulan menyebutkan bahwa populasi paling minimal (minimum Viable population) untuk harimau sumatera agar bertahan sampai abad berikutnya adalah 35 ekor dengan prasyarat peluang kepunahan < 30%, keragaman genetis > 0.6, pertumbuhan populasi positif, serta peluang bertahan hidup > 50%. Penguatan untuk kegiatan konservasi untuk meniadakan ancaman pada bentang alam baik besar, sedang dan kecil sangat penting.

Di lain sisi, pakar Harimau Sumatera, Hariyo T Wibisono, mengungkapkan bahwa optimisme melindungi harimau sumatera itu ada, karena upayanya sudah maju dan terukur seperti menggunakan perangkat Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART)-Patrol, Management Efectiveness Tracking Tool (METT) dan sebagainya. Namun hal tersebut perlu didorong lebih kuat lagi untuk tata kelolanya serta perlibatan semua pihak agar lebih efektif. Menurut Prof. Gono Semiadi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) rasa optimistik tersebut perlu dibarengi dengan catatan semuanya tersinkronisasi dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tapi tidak melupakan kekayaan sumber daya alam.

Harimau Sumatera : Korban pembangunan yang antroposentris

Saat ini isu harimau sumatera masih dipahami oleh segmentasi tertentu. Hal itu, menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk membuka kacamata publik bahwa persoalan harimau ini merupakan isu yang besar dan penting sekali. Polemik ini bukan hanya dipahami bersifat politis yang hilang dan timbul saja, namun juga perlu untuk generasi yang akan datang. “Harimau sumatera, saat ini memiliki reputasi yang buruk di kalangan masyarakat, karena diasumsikan dalam media sebagai pemangsa manusia, memangsa hewan ternak serta mengganggu manusia” ujar Rizky R Sigit. Direktur Mongabay Indonesia tersebut menambahkan “padahal ada kearifan lokal di Sumatera yang menganggap harimau sebagai nenek moyang/sesepuh yang harus dihormati, jelas sekali ini ada sebuah pergeseran nilai”. Dalam aspek sosio-kultural sudah tak sama lagi nilai yang dipegang dan hal ini terjadi juga didorong pemberitaan media. Persepsi manusia terhadap harimau berubah, padahal kenyataan sesungguhnya harimau adalah korban, korban pembangunan antroposentris. Menurut drh. Erni Suyanti yang ada di bengkulu, kebanyakan harimau sumatera yang ada di Bengkulu dalam kondisi sakit. Satwa tersebut memasuki perkampungan dan berinteraksi dengan hewan ternak yang merupakan pertanda bahwa kondisinya sudah tidak cukup baik. Sudah seharusnya arah pembangunan itu juga melingkupi ruang hidup harimau dan satwa lainnya.

Melihat perkembangan pemberitaan dan isu yang diangkat, masalahnya ada pada kedekatan psikologis. Kedekatan bukan hanya faktor geografis, tetapi juga faktor psikologis manusianya. Ada kesenjangan yang besar dari pengetahuan publik mengenai harimau sumatera.  Masyarakat menangkap citra harimau sumatera sesuai apa yang diberitakan oleh media.

Upaya untuk membangun imaji baru dapat dilakukan dengan menguatkan pemberitaan yang seimbang seperti yang disampaikan Prof. Gono Semiadi-LIPI. Dia menambahkan “Media dalam penyampaiannya ke masyarakat harus menyertakan juga nilai penting dari keberadaan harimau sumatera dalam berita sehingga berimbang”. Pengetahuan yang benar tersebut kemudian disebarkan hingga ke pelosok yang juga berbatasan dengan kawasan konservasi. Sehingga masyarakat yang bersinggungan langsung dengan ruang hidup harimau menjadi target sosialisasi untuk peningkatan pengetahuan. Citra negatif mengenai harimau sumatera yang ada saat ini perlu kita bentuk menjadi sebuah kesepahaman baru bahwa satwa tersebut merupakan kebanggan Indonesia. Kita perlu mendorong kuat dalam membangun kebanggaan sub-spesies yang cuma ada di Indonesia ini. Secara serius meniadakan perilaku anomali yang tidak membuat bangga menjadi bangsa Indonesia seperti perburuan dan pembantaian satwa langka tersebut. Oleh karena itu, selain membangun koridor untuk jelajah habitatnya juga membangun kebanggan terhadap harimau sumatera. Bersama kita mendorong untuk membangun simbol baru, simbol kebanggaan, hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan harimau sumatera, membangun mitologi baru antara alam dan manusia, serta mengubah paradigma yang anomali.

5 bentang alam prioritas harimau sumatera

United Nation Development Programme (UNDP) merancang proyek secara partisipatif dengan skema pendanaan hibah Global Environment Facility (GEF) senilai USD 9 juta selama 5 tahun untuk membantu penguatan upaya perlindungan terhadap Harimau Sumatera melalui transformasi efektifitas pengelolaan keanekaragaman hayati di lanskap-lanskap prioritas di Sumatera. Regional Technical Advisor for Biodiversity and Ecosystem UNDP Regional Bangkok, Tashi Dorji mengatakan “ Keanekaragaman adalah sebuah simbol dimana harimau sumatera menjadi iconic atau simbolik yang patut kita jaga bersama”. Sekretaris Ditjen KSDAE, Ir. Heri Subagiadi, M.Sc, mengungkapkan bahwa proyek transformasi efektivitas konservasi biodiversitas di bentang alam prioritas sumatera bertujuan untuk mengatasi kendala-kendala kelembagaan, tata kelola dan pendanaan dalam pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati. Bentang alam prioritas yang akan menjadi lokasi implementasi proyek adalah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, serta Lanskap Kampar. Kelima bentang alam tersebut sebagian besar merupakan bentang alam kategori besar yang menjadi sumber populasi dan genetik harimau sumatera sesuai dengan analisis PVA diatas. Dalam pelaksanaannya akan bekerjasama dengan Non Goverment Organization (NGO) yaitu Fauna Flora International (FFI), Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP), Zoological Society of London (ZSL) dan Forum HarimauKita (FHK).

Yanuar Ishaq DC

Bogor, 07 Maret 2017